Kembali ke Galeri Sastra
Karya Siswa Puisi
2026-08-02

Jejak yang Bernapas dalam Warna

Oleh: Nada Nabila
Kontributor bernafas.id
Bagikan:
Ilustrasi Karya
Puisi oleh Nada Nabila ini mendapatkan predikat Juara 2 pada Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kota Banjarmasin


Di sela sunyi yang tak selalu kita dengar,

ada denyut halus dari masa silam yang tak pernah benar-benar pergi

ia hanya berganti rupa, menjadi bayang di dinding waktu,

menjadi bisik yang menetes di sela ingatan, menjadi jejak yang diam-diam berjalan

di lorong-lorong jiwa yang kita lupa.


Ia bersemayam dalam warna yang bernapas lirih, warna yang menyimpan rahasia langit dan tanah, 

dalam nada yang menitik seperti rindu yang tak sempat pulang, dalam gerak yang tak henti mencari arti

seperti angin yang menulis pesan di daun-daun,

seperti ombak yang tak pernah lelah

mengeja nama pantai berulang-ulang.


Kita adalah anak-anak dari jejak panjang itu, anak-anak dari akar yang memeluk bumi dalam diam,

dari tangan-tangan yang pernah gemetar namun tak pernah benar-benar menyerah,

yang menyalakan cahaya di tengah gelap meski nyala itu nyaris padam,

dari jiwa-jiwa yang memilih bertahan meski retak menjadi bahasa sehari-hari,

dalam bentuk paling sederhana

namun paling abadi: karya.


Pada kanvas yang kadang tak sempurna, terlukis keberanian yang masih belajar bernama,

garis-garisnya goyah seperti langkah pertama yang meraba dunia,

seperti suara yang gemetar mencari makna, namun justru di sanalah kita belajar

bahwa ketidaksempurnaan adalah kejujuran, bahwa menjadi diri sendiri

adalah seni yang paling sunyi

namun paling lantang.


Pada irama yang mengalun pelan,

kita diajak pulang tanpa benar-benar berpindah,

dipeluk oleh nada yang mengenali luka kita, oleh harmoni yang tahu cara menenangkan badai,

mengingatkan bahwa ada akar yang tak terlihat oleh mata,

namun menjalar dalam dada seperti doa yang tak pernah putus,

yang selalu memanggil dengan suara selembut senja,

sehangat pelukan yang tak meminta alasan.


Kreativitas bukan sekadar lahir dari pikiran, ia adalah api yang tumbuh dari luka dan harapan,

dari mimpi yang menolak tidur, dari sunyi yang menolak kosong,

menembus batas seperti fajar yang merobek tirai malam tanpa ragu,

merangkai kemungkinan seperti tangan tak terlihat yang menyulam bintang di langit,

dan menolak diam di tempat yang sama seperti sungai yang terus berlari

meski berkali-kali dihadang batu.


Ia adalah cahaya kecil

yang menolak tunduk pada gelap, lilin yang setia berdiri di tengah angin yang mengguncang,

bara yang tetap menyala meski hampir menjadi abu,

mengajarkan bahwa harapan selalu menemukan jalannya untuk hidup,

bahkan dari tempat yang paling rapuh.


Dan ketika kita belajar menghargai,

kita sedang menanggalkan kesombongan perlahan, membiarkannya luruh

seperti daun yang jatuh tanpa suara, membiarkan hati terbuka

seperti jendela yang lama tertutup, memahami bahwa setiap karya adalah doa yang berwujud,

setiap budaya adalah rumah yang bernyawa

tempat sejarah bernafas,

tempat identitas berteduh,

tempat kita kembali

tanpa harus kehilangan arah.


Di situlah karakter tumbuh, tidak dengan suara gaduh,

tidak dengan paksaan yang keras,

melainkan seperti hujan yang jatuh diam-diam, namun menghidupkan seluruh tanah,

membangunkan benih-benih yang lama tertidur,

menjadikan kering sebagai harapan, menjadikan sepi sebagai kehidupan.


Kita menjadi lebih dari sekadar ada,

kita menjadi makna yang berjalan, menjadi nyala yang berpindah dari satu zaman ke zaman lain,

menggendong warisan di pundak waktu, menjaganya seperti menjaga napas terakhir,

yang tak hanya melihat masa lalu sebagai kenangan,

tetapi merawatnya

seperti taman yang tak boleh layu,

seperti cahaya yang tak boleh padam.


Sebab bangsa tidak dibangun hanya oleh suara lantang,

yang menggema lalu hilang,

melainkan oleh rasa yang dalam

sedalam laut yang menyimpan rahasia tak terucap,

oleh tangan yang terus mencipta

seperti matahari yang tak pernah lupa terbit,

dan hati yang tak lelah menghargai

seperti bumi yang tak pernah menolak hujan.


Maka biarkan warna tetap berbicara,

meski tanpa suara, biarkan ia menjadi bahasa yang tak butuh kata,

biarkan nada terus mengalir

seperti darah dalam nadi kehidupan, biarkan gerak terus menari

seperti angin yang tak pernah bisa dikurung,

karena dari sanalah ruh kita tumbuh menjadi bangsa

yang tak sekadar hidup,

tetapi menghidupi,

tak sekadar berdiri,

tetapi mengakar,

tak sekadar ada,

tetapi menjelma arti

bagi dunia yang terus berubah.